Smart buildings hadapi ancaman siber yang kian meningkat
Kontrol akses di sekitar infrastruktur kritis masih lemah.
Seiring gedung-gedung di Asia semakin cerdas, mereka juga semakin rentan.
Percepatan penerapan building management system — perangkat lunak yang mengendalikan segala hal mulai dari pendingin udara, pencahayaan, hingga keamanan — menciptakan risiko siber baru bagi pemilik properti, bahkan di tengah permintaan teknologi ini yang terus melonjak.
Para analis memperingatkan bahwa tanpa pengamanan yang lebih kuat, aset real estate berpotensi menjadi sasaran empuk para peretas.
“Contoh yang baik adalah kerentanan fisik, yang memungkinkan penjahat siber mengakses sistem dan mengganggu operasional gedung,” ujar Tommy Crowley, Vice President for Asia-Pacific di WiredScore Ltd., perusahaan sertifikasi asal AS yang berfokus pada konektivitas digital dan smart buildings, kepada Real Estate Asia.
Ia menyoroti kelalaian-kelalaian dasar, seperti ruang telekomunikasi yang tidak terkunci atau kata sandi yang ditulis di sticky notes, yang bisa membuka celah bagi seluruh gedung.
Di sejumlah pasar, termasuk India, kontrol akses di sekitar infrastruktur kritis masih tergolong lemah, tambahnya.
Pasar building management system di Asia Tenggara diperkirakan tumbuh 12% per tahun hingga mencapai US$17,64 miliar pada 2034, menurut Research and Markets Ltd.
Pertumbuhan ini mencerminkan dorongan menuju efisiensi energi, otomatisasi, dan kantor yang lebih cerdas. Namun, hal ini juga memperluas permukaan serangan digital.
Masalah yang lebih besar justru soal visibilitas. Kendati tekanan terhadap manajer properti untuk mengamankan baik teknologi informasi maupun teknologi operasional terus meningkat, banyak pemilik gedung yang bahkan tidak tahu berapa banyak perangkat yang terhubung dan beroperasi di dalam gedung mereka.
“Penilaian siber mungkin memperkirakan hanya ada 30 hingga 40 perangkat, tapi hasil pemindaian bisa menunjukkan hingga 400 perangkat,” ujar Crowley lewat Zoom, menyebut koneksi vendor, sistem lawas, dan praktik decommissioning yang buruk sebagai penyebabnya.
Dampaknya bisa sangat serius. Di New York, satu serangan phishing berhasil melumpuhkan sistem pemanas, ventilasi, pencahayaan, dan CCTV di sebuah gedung selama 90 hari, ujarnya.
Teknologi operasional kerap luput dari perhatian organisasi karena biasanya dikelola oleh tim properti, bukan oleh departemen information technology (IT) — sehingga dibutuhkan pergeseran budaya kerja sekaligus kejelasan tanggung jawab, ujar Crowley.
Sejumlah pasar sudah lebih maju dalam hal ini. Singapura dan Hong Kong muncul sebagai pemimpin regional dalam ketahanan siber gedung, menurut WiredScore.
Cheo Wei Ming, Director of Technology di Savills Singapore, mengatakan para pemilik gedung di kota tersebut kian memandang ketahanan digital sebagai pembeda (differentiator) dalam persaingan bisnis.
“Return on investment untuk ketahanan siber sebaiknya tidak sekadar dinilai dari penghematan biaya IT, melainkan lebih pada hasil bisnisnya,” ujarnya dalam balasan tertulis atas pertanyaan yang diajukan.
“Investasi semacam ini membantu mengurangi risiko gangguan bisnis, reputasi, dan asuransi, sekaligus memperkuat likuiditas aset dan ketahanan nilai properti,” tambahnya.