Perkantoran Jakarta diperkirakan mencapai 76% pada akhir tahun | Real Estate Asia
, Indonesia
245 views

Perkantoran Jakarta diperkirakan mencapai 76% pada akhir tahun

Tingkat okupansi rata-rata  perkantoran di CBD mencapai 74,7% pada Q1.

Dalam hal jenis industri, bisnis yang terkait dengan keuangan dan teknologi terus menjadi pendorong utama permintaan kantor di Jakarta.

Meskipun demikian, menurut laporan Colliers, mayoritas transaksi perkantoran masih disumbangkan oleh penyewa yang sudah ada yang menempati ruang kantor saat ini, dengan sedikit sektor bisnis baru yang mampu secara signifikan menempati ruang kosong yang besar.

Lebih lanjut dari Colliers:

Beberapa sektor bisnis yang saat ini aktif mencari ruang termasuk perbankan, perusahaan infrastruktur digital, pemberdaya start-up, pertambangan (terutama batu bara), medis, logistik, konstruksi, dan perdagangan.

Ekonomi Indonesia tetap relatif sehat dalam beberapa tahun terakhir, dengan proyeksi yang menunjukkan stabilitas pada tahun 2024. Meskipun terdapat sedikit kecenderungan menuju pertumbuhan ekonomi, permintaan ruang kantor diperkirakan tetap stabil pada 100.000–150.000 m² per tahun selama 2024–2026.

Namun, tren pengurangan ruang kantor terus berlanjut bagi beberapa penyewa sejalan dengan kinerja bisnis mereka. Rightsizing, yang sebelumnya dikenal sebagai downsizing, dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan ruang, terutama bagi perusahaan yang menerapkan model kerja hybrid. Tren ini bervariasi secara signifikan, dengan beberapa perusahaan mengurangi ruang sebesar 10% sementara yang lain hanya mempertahankan 10% dari ruang kantor mereka sebelumnya.

Di tengah dinamika relokasi dan rightsizing, ditambah dengan pasokan yang terbatas, tingkat okupansi rata-rata diperkirakan akan naik secara bertahap. Namun, penyerapan kantor tahunan belum mencapai periode keemasan seperti sebelum tahun 2019.

Pada Q1 2024, tingkat okupansi rata-rata tercatat sebesar 74,7% di CBD dan 77,9% di luar CBD. Tanpa proyek yang selesai, tingkat okupansi rata-rata diperkirakan mencapai sekitar 76% pada akhir tahun 2024. Sebaliknya, dengan pasokan tambahan yang signifikan pada sisa bulan tahun 2024 di luar CBD, tingkat okupansi rata-rata diperkirakan menurun sekitar 4%.

Perusahaan global rela sewa gedung kantor yang masih dalam tahap pembangunan demi bertahan di Singapura

Tidak ada pasokan Grade A CBD baru hingga 2028, paksa penyewa sewa ruang 18 bulan lebih awal.

Rumah bekas bersubsidi tarik minat pembeli apartemen swasta

Kebijakan ini mendongkrak turnover dengan mempercepat realisasi permintaan, bukan menaikkan volume dalam jangka panjang.

Smart buildings hadapi ancaman siber yang kian meningkat

Kontrol akses di sekitar infrastruktur kritis masih lemah.

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Mazari bidik pembeli untuk tinggal jangka panjang seiring pasar Bali kian matang

Pengembang tersebut menyebut permintaan bergeser melampaui investor sewa.

Lyvin Properties bertaruh pada kemewahan berkepadatan rendah di Bukit Selatan, Bali

Ruang, privasi, dan kualitas lingkungan kini menjadi pendorong utama permintaan.

MQDC melihat meningkatnya minat investor terhadap hunian mewah ramah lingkungan

The Forestias di Bangkok menghadirkan berbagai fasilitas dalam satu tata ruang terpusat.

Berikut Ini adalah 3 kelompok ekspatriat yang menggerakkan pasar sewa residensial Hong Kong

Cari tahu ekspatriat mana yang memiliki anggaran terbesar untuk sewa bulanan.

Negara mana yang memimpin investasi hotel di Asia Pasifik pada paruh pertama 2025

Lebih dari 80% dari total investasi hotel senilai US$4,7 miliar di kawasan ini hanya berasal dari lima negara.

Rumah tangga yang makin kecil memicu krisis perumahan di Asia-Pasifik

Pembangunan yang lebih cepat dan perluasan pasar sewa bisa menjadi solusi untuk masalah ini.