Surbana Jurong digitalisasi manajemen fasilitasnya dengan software OMNI Surbana Jurong's OMNI software digitising facilities management Realestate Asia
, Singapore

Surbana Jurong digitalisasi manajemen fasilitasnya dengan software OMNI

Perusahaan konsultan perkotaan, infrastruktur, dan layanan manajemen global ini telah mengembangkan alat untuk meningkatkan proses kerja dan efisiensi operasional manajemen gedung.

Surbana Jurong telah menciptakan penawaran layanan manajemen fasilitas dan aset yang canggih dengan mengintegrasikan berbagai sumber data ke dalam satu platform digital untuk membantu memastikan operasional yang efisien. Dengan mengembangkan dan mengadopsi digital sebagai bagian dari manajemen sehari-hari, Surbana Jurong juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan standar industri manajemen fasilitas.

Dalam wawancara eksklusif dengan Real Estate Asia, perusahaan bercerita mengapa memutuskan untuk memulai pengembangan OMNI.

OMNI adalah solusi platform manajemen fasilitas dan aset digital yang mengumpulkan data dan membangun informasi. Data dianalisis dan digunakan untuk membantu pengelolaan dan kinerja aset klien. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan big data analytics dan memanfaatkan teknologi, seperti Building Information Management (BIM) dan SMART Facilities Management (FM), untuk mengoptimalkan pengoperasian fasilitas.

Salah satu tujuan utama adalah untuk memastikan pekerjaan diselesaikan secara efisien. Situasi yang ideal adalah ketika informasi diakses dan dianalisis dari jarak jauh, sehingga masalah dan situasi dapat diatasi bahkan sebelum teknisi atau engineer menginjakkan kaki di lokasi konstruksi atau bangunan.

Lebih dari sekadar pemeliharaan, OMNI direncanakan menjadi penyedia solusi serba bisa. Tidak hanya akan dapat meningkatkan kecepatan dan efisiensi dalam membangun proyek, tetapi juga dimodelkan untuk memahami big data melalui pemanfaatan sensor Internet-of-Things (IoT).

OMNI mengumpulkan informasi bangunan dan data dinamis yang dihasilkan dari sensor IoT untuk big data analytics. Hal ini memungkinkan operator gedung untuk mengoptimalkan dan mengembangkan strategi kerja yang lebih efisien untuk pemeliharaan korektif dan preventif. Operator gedung juga dapat mengakses informasi secara real-time yang akurat kapan saja.

Platform ini memiliki serangkaian modul untuk mendukung fungsi utama manajemen fasilitas, termasuk manajemen ruang, manajemen aset, manajemen pemeliharaan, pelaporan dan analisis, dan aplikasi seluler untuk pengguna saat bepergian.

Platform ini menyediakan metrik kinerja dan alat perencanaan bagi pengguna untuk mengelola operasi aset dan fasilitas secara efisien. Platform ini juga terintegrasi baik dengan intuitive dashboards, instant messaging, faulty system tracking, dan real-time data analysis.

Penggunaan OMNI di ALICE@Mediapolis

Untuk lebih mendorong smart building management, Boustead Projects Limited, spesialis ternama di bidang smart eco-sustainable real estate solution, memulai penerapan awal OMNI di pengembangan business park ALICE@Mediapolis dari Boustead Development Partnership pada Juli 2020. Sebagai proyek percontohan, solusi inovatif digunakan untuk manajemen ruang, manajemen aset, manajemen pemeliharaan, pelaporan, dan analisis.

Berdasarkan pengujian tahap beta yang sedang berlangsung dan data yang dikumpulkan hingga saat ini, OMNI mungkin dapat mencapai peningkatan lebih dari 30% dalam produktivitas kerja secara keseluruhan, dengan setidaknya 50% peningkatan dalam membangun akses informasi dan pengurangan kebutuhan tenaga kerja dengan menyelesaikan lebih banyak proses yang efisien untuk pekerjaan yang diperlukan. Pengujian resmi platform akan dimulai pada Desember 2020.

“Kami memiliki lebih banyak data hari ini, lebih banyak insight daripada sebelumnya, memungkinkan kami membuat keputusan yang lebih baik,” kata Jason Whitcombe, Surbana Jurong Private Limited (SJPL) Group Director for Managed Services.

SJPL menyampaikan bahwa sementara OMNI tidak berdiri sebagai akronim, itu lebih mencerminkan kata ‘omnipotent’ dan ‘omnitranscient’.

“Apa yang kami coba lakukan adalah menempatkan alat yang tepat di tangan orang yang tepat. Jadi, ketika seseorang tiba di lokasi, mereka sudah melakukan analisis terhadap peralatan itu. Mereka bisa melakukannya dari jarak jauh. Mereka dapat mengklik peralatan itu, memahami sejarahnya, kapan dirawat, dan apa masalahnya,” jelas Whitcombe.

Di era digital saat ini, perusahaan mengatakan bahwa OMNI dibuat tidak hanya untuk mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga karena pelanggannya telah mencari solusi digital.

End-users menginginkannya sekarang. Kita hidup di era digital atau setidaknya sudah dimulai - jika Anda tidak dapat menggunakan telepon dan melakukan sesuatu dengan aplikasi, maka mungkin ada gap di sana. Banyak pelanggan kami yang lebih maju dalam penguasaan teknologi, mendorong kami dengan cara ini,” kata Whitcombe.

Merevolusi praktik tradisional di industri

Eugene Seah, Managing Director of Surbana Technologies, mengilustrasikan bagaimana OMNI bekerja dalam pemeliharaan lift. Dia mengatakan bahwa dengan alat ini akan dimungkinkan untuk memberitahu klien kapan lift bisa rusak.

“Kami juga dapat menyarankan lift seperti apa yang mungkin menjadi pilihan yang lebih baik bergantung pada setiap situasi. Dengan menggunakan data yang kami kumpulkan, saya dapat memberitahu Anda sebagai klien, merek lift mana yang lebih andal dan kesalahan umum apa yang perlu dipikirkan, misalnya passenger traps atau shimmering, atau ketika Anda mengalami penurunan level, apa yang mungkin terjadi, ini semua adalah insight yang sangat berharga—dan saya dapat memberitahu Anda sebelumnya sehingga masalah ini dapat dihindari,” katanya.

Seah menceritakan bahwa klien yang berada di Singapura dapat memantau lift di gedungnya di Jakarta. Dari pusat kendali di Singapura, dia dapat menginstruksikan timnya untuk memperbaiki lift, menghemat waktu dan uang.

“Karena sistem kami dapat berbasis cloud, kami dapat melihat di seluruh frekuensi dan kami dapat memantau dari jarak jauh di Singapura. Kami dapat memasukkan business rules ke dalam sistem kami, dan teknisi di Jakarta akan dikirimi laporan tercetak yang menyampaikan 'Hei, tolong pergi dan perbaiki kesalahan pada lift ini',” papar Seah.

Dia menambahkan bahwa tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup semua orang yang terlibat, dan bukan hanya untuk menawarkan sesuatu yang baru.

“Ini adalah waktu yang sangat menggairahkan sekarang. Kami akan kembali kepada pelanggan kami untuk mempresentasikan penggunaan digital dan analitik serta nilai dan manfaat yang dapat ditawarkannya. Kami memiliki tim data scientist untuk membantu korelasi data ini,” kata Seah.

Bagi James Chan CK, Managing Director of SMM Pte Ltd., “going digital” adalah konsep yang baru-baru ini dimulai oleh industri manajemen fasilitas.

Selain menghadapi tantangan untuk mempromosikan cara baru berbisnis ini, memiliki data yang dapat membantu menjadikan OMNI sebagai alat yang ampuh juga merupakan aspek lain yang perlu dipertimbangkan.

“Kami harus mengatasi tantangan. Ini adalah industri yang baru saja berinisiatif untuk menjadi digital. Kita bisa menggunakan AI untuk mengumpulkan dan mulai menganalisis data untuk mendorong lebih banyak analisa prediksi dari waktu ke waktu, tetapi tentu saja memerlukan data untuk dapat melakukannya,” ungkap Chan.

Pembuatan OMNI dimungkinkan karena perusahaan telah memiliki data kerja yang berguna selama bertahun-tahun untuk ditinjau dan dianalisis dari sekian lama mereka bekerja di industri ini.

“Saya pikir keuntungan terbesar yang kami miliki dengan ini, dengan sistem, dan teknologi yang kami jalankan adalah bahwa kami adalah domain experts di bidang ini. Jadi, ketika kami menerima data, kami memahami apa yang dikatakan, karena itu pula kami memiliki pemahaman yang cukup baik tentang apa yang harus dilakukan dengan data itu,” jelas Whitcombe.

“Di SJ kami memiliki perencana, desainer, konsultan—di seluruh siklus sebuah bangunan. Tidak hanya pada pengoperasian di mana kami juga memiliki domain experts di FM, kami memiliki pakar desain di depan, dan kami memiliki spesialis konstruksi di tengah. Jika kami hanya praktik FM yang mandiri, itu akan jauh lebih sulit,” tambahnya.

Ketika ditanya tentang rencana masa depan perusahaan untuk OMNI, Seah berbagi bahwa ada dorongan untuk membuatnya tersedia untuk digunakan pada industri kesehatan dan penerbangan.

“Sejak tahun lalu, ada dorongan untuk memindahkan platform ini ke sektor lain. Jadi, apa yang kami lakukan? Kami melihat potensi pada industri kesehatan, kami bekerja dengan industri penerbangan, kami bekerja dengan asset monitoring,” katanya. Whitcombe menambahkan bahwa dibandingkan dengan teknologi lain yang menawarkan alat serupa, OMNI dapat digunakan dengan banyak sistem.

“Itu bisa diterapkan pada aset apa pun. Pada dasarnya, sensor IoT apa pun—kami dapat mencerna umpan dan memiliki akses ke data,” ujarnya.

“Kami dapat menyambungkan dan bekerja dengan salah satu atau beberapa sistem. Saya pikir beberapa tantangan utama yang dihadapi industri ini adalah kurangnya integrasi antar sistem, terutama di mana perusahaan telah berinvestasi pada desain dan pengembangan platformnya sendiri. Mereka tidak selalu berjalan baik dengan yang lainnya, sedangkan sistem kami sengaja dirancang untuk bekerja dengan sistem apa pun,” tambahnya.

OMNI terus ditingkatkan lewat pembaruan dengan modul baru. Beberapa di antaranya termasuk mengelola inventory, mengintegrasikan sensor pintar, dan tenant management.

Perusahaan menyampaikan bahwa meskipun OMNI telah diluncurkan secara resmi, OMNI akan terus dikembangkan untuk mengikuti perubahan praktik dan teknologi, tidak hanya di industri manajemen fasilitas, tetapi juga di industri lain di mana OMNI dapat diadaptasi.

 

Follow the link for more news on

Sewa ritel utama di Jakarta naik 0,7% di Kuartal 2

Sebagian besar  pemilik tanah telah kembali ke tingkat sewa normal.

Sewa kantor Grade A di Jakarta turun 2,4% di Q2

 Secara tahunan, sewa turun 9,6%.

Mengapa Jepang menjadi pemain kunci di pasar residensial Indonesia

Mereka menyumbang 5% unit kondominium di Jabodetabek.

Sinar Mas Land semakin membuat BSD City menjadi sorotan

Sinar Mas Land semakin agresif dalam memperkenalkan transformasi BSD City sebagai kota yang berbasis digital dan keberlanjutan.

Apa itu skema LVC dan mengapa itu menjadi kunci masalah pembangunan perkotaan di Indonesia

Konsep perumahan TOD saat ini sedang menjadi sorotan di tengah perkembangan akses transportasi umum.

Tradisi berpadu dengan modernitas di kantor hybrid masa depan

Guoco Midtown yang baru memiliki lima dimensi fleksibilitas kantor.

Destination Office menandai kembalinya bekerja normal

Kantor baru Cushman & Wakefield seluas 11.

Pasar pusat data Indonesia akan mencapai US$3,07 miliar pada tahun 2026

Kota-kota lain selain Jakarta menarik perhatian investor.