Apa yang bisa mendorong tingkat okupansi mal di Jakarta dalam waktu dekat? | Real Estate Asia
, Indonesia
176 views

Apa yang bisa mendorong tingkat okupansi mal di Jakarta dalam waktu dekat?

Ada keinginan nyata bagi peritel untuk membuka toko baru.

Aktivitas persewaan di sektor ritel Jakarta menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan tahun lalu. Menurut laporan Colliers, lonjakan permintaan terutama terlihat pada sektor makanan dan minuman, yang mendominasi aktivitas penyewaan di dalam mal. Beberapa penyewa utama secara aktif mencari ruang baru untuk ekspansi.

“Contoh yang menonjol adalah jaringan supermarket ternama AEON Store yang baru-baru ini meresmikan toko pertamanya di Alam Sutera. Demikian pula, peritel sneaker dan alas kaki telah menjalankan strategi ekspansi yang agresif, dan terus membuka toko baru sejak tahun lalu,” tambah laporan itu.

Berikut selengkapnya dari Colliers:

Meskipun pasar kopi grab-and-go di Indonesia sudah jenuh, pemain lain telah memasuki pasar dengan membuka toko pertamanya di Indonesia. Jaringan kedai kopi asal Cina telah mendirikan kedai di Kota Kuningan, Jakarta Selatan. Jika rencana ekspansi internasional mereka terwujud, kami berharap mereka akan membuka gerai tambahan, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di wilayah sekitarnya, Jabodetabek. Tren ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan peritel, sebagaimana dibuktikan dengan ekspansi mereka yang terus berlanjut ke pusat perbelanjaan.

Tidak adanya pasokan baru yang berkepanjangan, ditambah dengan tren positif dalam kunjungan mal dan transaksi ritel, telah menyebabkan penurunan tingkat kekosongan di Jakarta. Pada Q3 2023, rata-rata tingkat hunian di Jakarta mencapai 72,8%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, karena pembangunan mal yang sedang berlangsung diperkirakan akan selesai pada akhir tahun ini, sedikit penurunan tingkat okupansi diperkirakan akan berakhir pada 2023.

Di wilayah Jabodetabek, okupansi tercatat sekitar 70,4%, relatif stabil selama tiga bulan terakhir. Mal yang baru dibuka masih mempunyai komitmen dari para penyewa yang sedang dalam proses melengkapi toko dan belum mulai beroperasi. Namun, pasokan diperkirakan akan tinggi pada akhir 2023 dan dapat berdampak pada tingkat okupansi di wilayah Jabodetabek.

Keinginan untuk membuka gerai baru terlihat jelas, meskipun penyelesaian mal baru pada akhir 2023 mungkin akan mengganggu tingkat okupansi rata-rata untuk sementara waktu. Namun demikian, komitmen para penyewa mal-mal tersebut diperkirakan akan mendorong peningkatan tingkat hunian rata-rata di tahun-tahun mendatang.

 

 

 

Perusahaan global rela sewa gedung kantor yang masih dalam tahap pembangunan demi bertahan di Singapura

Tidak ada pasokan Grade A CBD baru hingga 2028, paksa penyewa sewa ruang 18 bulan lebih awal.

Rumah bekas bersubsidi tarik minat pembeli apartemen swasta

Kebijakan ini mendongkrak turnover dengan mempercepat realisasi permintaan, bukan menaikkan volume dalam jangka panjang.

Smart buildings hadapi ancaman siber yang kian meningkat

Kontrol akses di sekitar infrastruktur kritis masih lemah.

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Mazari bidik pembeli untuk tinggal jangka panjang seiring pasar Bali kian matang

Pengembang tersebut menyebut permintaan bergeser melampaui investor sewa.

Lyvin Properties bertaruh pada kemewahan berkepadatan rendah di Bukit Selatan, Bali

Ruang, privasi, dan kualitas lingkungan kini menjadi pendorong utama permintaan.

MQDC melihat meningkatnya minat investor terhadap hunian mewah ramah lingkungan

The Forestias di Bangkok menghadirkan berbagai fasilitas dalam satu tata ruang terpusat.

Berikut Ini adalah 3 kelompok ekspatriat yang menggerakkan pasar sewa residensial Hong Kong

Cari tahu ekspatriat mana yang memiliki anggaran terbesar untuk sewa bulanan.

Negara mana yang memimpin investasi hotel di Asia Pasifik pada paruh pertama 2025

Lebih dari 80% dari total investasi hotel senilai US$4,7 miliar di kawasan ini hanya berasal dari lima negara.

Rumah tangga yang makin kecil memicu krisis perumahan di Asia-Pasifik

Pembangunan yang lebih cepat dan perluasan pasar sewa bisa menjadi solusi untuk masalah ini.